1.30.2010

Tukeran Link di Blog Ini

Bagi kawan-kawan yang ingin tukeran link disini tempatnya. Langsung aja ya nulis di commentnya kasih link yangakan dipasang n jangan lupa descriptionnya juga. Well, thx.

Dedi Isnaini Dot Com

Seal Untuk Jockey Pump

Seal Untuk Jockey Pump ----------- Tanya - Wawan Hendrawan. Dear Senior Rekan Milist Migas,Saya mau menanyakan penggunaan type seal yang paling baik untuk jockey pump, apakah menggunakan mechanical seal atau packing seal.

Tanggapan 1 - Teguh Santoso

Pak Wawan,

Untuk jockey pump dimana fluidanya adalah air (laut/tawar), requirement specnya lebih rendah dibandingkan medianya hidro karbon, menurut saya sih pakai packing seal saja pak karena akan lebih murah. Kecuali ada permintaan harus memenuhi specifikasi khusus pompa dari perusahaan bapak atau user bapak. CMIIW.

Tanggapan 2 - saut pasaribu

Dear Pak Wawan,

Saya memberikan beberapa alasan untuk dipilih,

Packing mungkin cukup baik untuk Liquid non hazardous (air), Harganya murah, tetapi tingkat kebocorannya lebih tinggi dari mech seal, Packing juga harus di Adjust untuk beberapa waktu tertentu( sesuai standard manual) untuk mengurangi kebocoran liquid ke environment.

Mech seal, sangat baik, harga lebih tinggi dari packing, Tingkat kebocoran sangat sangat kecil( Environment bersih) tidak perlu di adjust.

Tanggapan 3 - Robbin Gunawan T

Selamat pagi pak wawan,

Jika ingin menghendaki penggunaan mechanical seal, dapat saya bantu mengisi spesifikasi yang tepat dan budget yg diinginkan. Mohon kirimkan via japri saja jika memang bapak punya spesifikasi pompa dan fluida nya..dengan senang hati kami dapat membantu. Sedikit gambaran, di customer site kami CPI, jockey pump sdh menggunakan mechanical seal sebagai feature standardnya.

Tanggapan 4 - Ginting Simeon

Pak Wawan,

mengingat kegunaan Jockey Pump hanya untuk mempertahankan pressure di fire water line, dan liquidnya adalah air, sangat umum untuk JP yang dipakai adalah gland packing. Harganya murah dan tingkat kebocorannya pun masih dalam batas kewajaran.

Tanggapan 5 - walid walid

Dear Rekan Milist Migas

Saya mau menanyakan seputar Fire Water Pump, ditempat saya kerja fire water system menggunakan sea water, yang jadi masalah Fire Water Pump saya cooling systemnya menggunakan air laut, ini sering terjadi Over Heat di HE nya untuk menghindari blocked di HE kira2 proteksinya apa ya?

Tanggapan 6 - Teguh Santoso

pak walid, mungkin yang dimaksud bapak adalah demikian: driver fire water pump Anda menggunakan Diesel Engine. Nah diesel engine ini didinginkan oleh air tawar dan air tawar inilah yang didinginkan oleh HE air laut. Pak Walid, Overheat di HE bisa karena flow air laut kurang karena blocked. Untuk itu biasanya ada system hipochlorite yang diinjeksikan ke HE tersebut untuk mencegah marine growth. CMIIW Demikian,

Tanggapan 7 - Irmansyah Eko

Bisa juga heat balancenya perlu di hitung ulang pak.

Tanggapan 8 - Suwarno, Umbara (Incoray)

Pak Simeon,

Kira-kira seberapa besar toleransi kebocoran yg diperbolehkan,Dalam mempertahankan pressure, JP bekerja periodik secara otomatic ( On-Off ),mengingat bearing JP harus didinginkan oleh water . sehingga setting glandpacking sedikit longgar ( kalau tidak salah ) agar water masih bisa mengalir diantara shaft dan packing.

Maaf agak telat menanyakannya.

Tanggapan 9 - Ginting Simeon

Saya kira tidak ada aturan yang membahas toleransi kebocoran untuk JP. Hanya common practice saja, baik di industri maupun di gedung2 komersil.

JP di set untuk bekerja secara otomatis secara ON-OFF karena fungsinya untuk mempertahankan pressure. Karena HP motor JP kecil sekali dibanding FWP, frekwensi ON-OFF JP tidak dipermasalahkan. Bayangkan kalau FWP nya yang ON-OFF hanya untuk mempertahankan pressure. Tentunya konsumsi listriknya akan sangat besar.

Saya kira hal diatas lah yang lebih dominan dalam pertimbangan pemakaian JP, disamping segi ekonomisnya, dan mengesampingkan tingkat kebocoran air dengan pemakaian gland packing.

Discussion About Sink & Source

Beda Sink dan Source ---------- Tanya - Andy Odank. Saya sering baca di catalog vendor utk transmitter, F&G detector menyebutkan sink or source. Setelah saya pelajari saya msh blm dapat menemukan jawaban yg mudah di mengerti. Apakah bapak2 sekalian ada yg punya pengalaman soal ini?

Tanggapan 1 - Martin Rifki

Mencoba menjawab:

Untuk F&G Detector saya kurang tahu, mungkin sama dengan yang umum saya tahu di process design:

source : sumber, from

Sink : destination (tujuan) to

Ilustrasi sederhananya seperti ini:

Source -----> sink

Tanggapan 2 - wie_liang2

Andy,

Saya coba jawab.

perihal sink/source itu berkaitan dgn signal 4-20mA hasil pengukuran oleh F&G detector tsb.

Secara natural, kalau ada arus 4-20mA artinya ada sumber tegangan dan ada beban (resistance).

Kalau sumber tegangan 4-20 itu disupply dari F&G detector, artinya detector itu source (detector disupply oleh external power). Sebaliknya kalau sumber tegangan itu diberikan dari I/O card (DCS), artinya detector itu sink.

Perhatikan bahwa I/O card dan detector harus salah satunya source dan yg satunya lagi sink. Kalau dua-duanya sink atau dua-duanya source, maka detector tidak akan bekerja.

semoga membantu.

Tanggapan 3 - mahdinsyah_rukmanir

Pak Andy odank,

Ini saduran dari buku referensi PLC yang saya pegang.

sourcing is often interchanged with PNP (transistor), and sinking with NPN (transistor),

Kalo mau lebih lengkap silahkan lewat japri,

Untuk pak admin, saya ada buku PLC dalam pdf, 5MB, didalamnya berisi juga sourcing dan singking,

Mudah-mudahan manfaat.

Tanggapan 4 - teddy gunawan

Dear All,

Istilah sourcing atau sinking harus dilihat dari sisi mana yang harus diperhatikan misalnya untuk transmitter dan IO point. Jika transmitter tersebut 2 wire bearti transmitter adalah sinking sedangkan IO module baik PLC/DCS adalah sourcing. (Jika IO point tsb diukur ada tegangan +/- 24VDC) Jika transmitter menggunakan 3 or 4 wire (field power) berarti transmitter tersebut sourcing sedangkan IO module PLC/DCS adalah sinking.

Gas High Pressure pada Wells

Gas Pressure di Komunitas Migas Indonesia. ---- Kami akan mendapatkan pekerjaan workover untuk wells di sekitaran Jatibarang. Saat kami menuju lokasi, disekitar wells ada aktifitas bubbles (di permukaan wells yang terendam air). Apakah ini menunjukkan adanya gejala gas bertekanan tinggi ? Setelah kill well, apakan gas pressure bisa di maintain menjadi zero ? Hal ini berhubungan dengan potensial hazard untuk welding activity on location. Terima Kasih

Tanggapan 1 - Ridwan Hardiawan

Belum tentu gas tekanan tinggi Pak novianto, belum tentu juga gasnya dari dalam tubing / casing sehingga mungkin tidak bisa di kill. Apa ada pressure gauge dipasang di side outlet wellheadnya?

Tanggapan 2 - Novianto Dwi Wibowo

Tidak ada pressure gauge nya pak. Seandainya gas bukan dari casing, kira2x dari mana ya pak sumber gas tersebut. Maaf, saya masih awam dan benar2x baru dalam dunia migas. Terima Kasih.

Tanggapan 3 - Kukuh A. Damayanto

Pak Novianto,

Kami pernah ada pengalaman dalam hal kerjaan workover, biarpun saya sebenarnya bukan orang yang paham well waktu itu (untuk informasi saya seorang piping engineer). Ceritanya kami akan membuka sumur gas yang sudah di plug atau ditutup di ujung casingnya. Terjadi hal yang sama seperti yang bapak alami. Di sekitar casing ada genangan air dan di permukaan air tersebut timbul gelembung gas, yg setelah kami selidiki ternyata keluar dari anulusnya.

Yang kami lakukan utk workover/memasang tubing, adalah:

1. Monitor terus gas yg keluar dari anulus tersebut dgn gas detector. Pastikan gas yg keluar masih di bawah batas LEL nya.

2. Memasang pressure gauge di body casing-nya, dgn tujuan memonitor besarnya pressure.

3. Yang berikutnya baru kita melakukan workover (bisa memasang tubing dan/atau perforasi) dgn selalu memonitor keduanya di atas.

Mudah-mudahan pengalaman ini bisa menjadi bahan referensi pak Novianto.

Tanggapan 4 - Kukuh A. Damayanto

Tambahan Pak Novianto,

Jangan lupa pastikan juga joining procedure pakai yang hot working procedure.

Tanggapan 5 - MS Bahri

Bubble yang muncul di sekitar well dan celler itu biasanya merupakan bocoran dari casing-casing conductor maupun intermediet casing nya atau terkadang juga muncul dari sela-sela antara cement bond dan casing surface. Untuk kegiatan welding di sumuran pasti perlu bleedoff terhadap kemungkinan adanya gas yang terakumulasi di sekitar welding site. Demikian juga tindakan pencegahan api dan tekanan sesuai standard keselamatan kerja tentunya.

http://www.migas-indonesia.com

1.23.2010

Predictive Maintenance

Rangkuman Diskusi Predictive Maintenance. Apakah rumus untuk menentukan reliability, fungsi peluang kegagalan, laju kegagalan untuk predictive maintenance dan preventive maintenance sama? Klo beda gmana? Saya menggunakan metode FMEA dan FTA untuk menentukan komponen, subsistem,sistem yang failure nya paling tinggi.

Tanggapan 1 - ROSES-Man / Rosmana

Saya cukup penasaran dengan penggunaan teknologi predictive maintenance (PdM) equipment di dunia migas indonesia ini, sampai seberapa jauh manfaat dari teknologi ini digunakan di bidang ini. Apalagi dengan adanya krisis global, yang mengharuskan perusahaan menekan ongkos operasionalnya, dimana salah satunya adalah biaya maintenance yang pastinya bisa menghabiskan 30% - 60% dari biaya operasional. Apalagi kalau perusahaan tersebut hanya mengandalkan preventive maintenance, atau bahkan lebih parah lagi corrective maintenance di hampir semua program maintenance plant / fleet-nya.

Banyak keuntungan yang ditawarkan oleh PdM ini, atau mungkin lebih dikenal dengan sebutan condition based maintenance (CBM), namun biasanya terkendala dengan harga peralatannya yang mahal. Penggunaan yang optimal tentu akan memberikan dampak yang baik, seperti pengalihan cara dimana yang awalnya hanya terpaku pada penggantian komponen pada umur tertentu, akhirnya bisa menggunakan CBM.... yang hanya perlu mengganti kalau memang sudah akan rusak.

Mungkin rekan2 bisa share penggunaan teknologi ini di perusahaan rekan2? apa saja yang berubah sejak menggunakan teknologi tersebut?

Tanggapan 2 - Deny Breigg

Sedikit masukan dr saya,

Memang Pdm relatif lebih mahal dan mungkin tinggi sekali cost nya.

Tp jangan dilihat dr at present condition/value ketika kita purchased toolsnya. Manfaat yg didapat dan cutting cost dr penerapan PdM ini yg mesti dilihat. Jd bisa dibilang PdM is A long term Investment...lihat 5-10 thn kedepan,brapa nilai spare part yg bisa di optimal pemakaiannya,brp downtime yg terselamatkan..dan sebagainya. Kalau mau di compare,mungkin 30% - 60% cost itu is nothing. Dan semua itu terbukti! bukan cuma omong kosong belaka,selama kita menerapkan dgn benar.

Tp masalah nya apa Pihak Management serta merta akan percaya dgn 'bualan' kita. Heheh disitu tantangannya. Make sure kl management mengerti dgn konsep tsb,rubah visi nya menjadi visi yg jauh ke depan...

Setau saya di banyak Kilang2 Pertamina dan Plant2 KPS serta di Plant Mining sudah menerapkan ini semua....dan mrk mendapatkan gain dr perubahan itu.

Mungkin dr rekan2 lain ada yg menambahkan..maaf kl ternyata coment saya belum memenuhi harapannya. :).

Tanggapan 3 – ebahagia

Pak Rosmana,

Paket system PdM (hardware & software) memang mahal, tetapi soft skill tentang PdM jauh lebih mahal.

Bagi perusahaan yang paham & mau invest, belum menjamin program PdM berjalan mulus sesuai harapan.

Opini saya, lease base 1 ~ 2 tahun atau sekalian aja outsourcing paket PdM berdasarkan metode-nya, misalkan: vibrasi, tribology, thermograph, etc - masing2 pada pihak yang mumpuni. Harus ada program "baby sitting" dan transfer knowledge secara benar, bukan cuma jual modul pelatihan berorientasi selembar kertas - "sertifikat", kesukaan orang kita hehehe.

Tanggapan 4 - ROSES-Man / Rosmana

Pak Ibnu dan Pak denny (dan yang lainnya juga), maksud saya juga sebenernya gitu pak, bagaimana sebuah perusahaan memanfaatkan teknologi PdM untuk memaksimalkan produktivitasnya. Tapi mungkin karena saya menggambarkan dengan harga tool yang mahal jadi kesannya setiap perusahaan harus punya in-house capability ya....

Intinya gini, di antara teknologi PdM yang luas itu... apakah di indonesia sudah banyak perusahaan yang mengaplikasikannya, baik itu in-house atau 3rd party. kl dari contoh pak ibnu, gak mungkin setiap perusahaan punya lab oil sendiri.... ya bangkrutlah buat setup lab-nya. yang bagus memang menggunakan pihak ketiga, tapi ya itu... bagaimana dengan personelnya? apakah tahu apa yang harus dibaca dari laporannya?

dan bagaimana membuat rekomendasinya?

jadi maksud saya teknologi apa saja yang banyak digunakan di industri migas indonesia (khususnya)? dan bagaimana penggunaannya (baca report, rekomendasi, sampai mungkin perhitungan perbandingan biaya)?

Tanggapan 5 – ebahagia

Pak Rosmana,

Coba saya jelaskan lebih rinci soal PdM via tribology & fasilitas lab pengujian minyak pada khususnya.

Ada fasilitas oil lab berbasis ASTM standard yang lebih tepat sebagai lab uji kualitas (QC) dan PdM as their second goal. Kelengkapan fasilitas lab menjadi "senjata utama" tentu saja di ikuti nilai investasi yang selangit. Pengalaman saya investasi oil lab standard ASTM adalah jutaan dollar. Celakanya para pemain oil lab terjebak pada "sinetron klasik" ini, sedangkan pasar sudah merubah "need" ke arah PdM lab atau PdM services, dimana soft skill tentang tribologi, PdM, maintenance, machines lubrications, machine development, equipment builder relationship, etc - lebih dominan dari sekedar peralatan lab - toh lab instrument just a tool to produce data. Data akurat itu penting, interpretasi & "what next" (implementation) jauh lebih penting.

Nah oil lab berbasis PdM ini yang +best buy+, hanya di pilih beberapa parameter penting sebagai "screening points" - kalo OK just re-check w/ other method (vibrasi, thermography, etc). investasi max 0ribu-an. Kalo ada yang "aneh" or alert langsung kirim sampel ke lab untuk detail analysis - sementara proses re-check w/ other method tetap berjalan.

Soal harga, best practice, tren, parameter uji, interpretasi bisa di ubek2 di artikel2 lubes clinic situs kami.

Singkatnya: tool & method yang akan di pilih bersifat case by case, konsultasi to your doctor 1st jangan tanya ke salesman or mechanic.

Tanggapan 6 - Achmad Riyanto

Pak Ibnu,

Maaf ikut nimbrung diskusi dan tanya2.

Kalau boleh tanya detail,

1. Softskill PdM apa saja yang mandatory untuk dipenuhi?

2. Parameter apa saja yang dijadikan pedoman berhasil atau tidaknya program PdM ?

Tanggapan 7 - Anas Rosyadi

Dear Ros,

Implementasi PdM selalu melibatkan TEKNOLOGI, ORANG dan PROSES. Teknologi hanya salah satu bagian saja sebagai alat bantu. Yang tidak kalah pentingnya juga skill orang yang menggunakan teknologi tsb dan proses bisnis maintenance yg baru sebagai konsekuensi dari rekomendasi PdM tsb. Contoh simpel, misalnya dari hasil diagnosis tim PdM (analisis vibrasi, misalnya) ditemukan bahwa kondisi bearing masih dalam kondisi baik dan normal. Namun tim maintenance mengatakan bahwa pengalaman dia selama ini, setiap 5 thn bearing harus diganti. Terjadinya 'perseteruan' di sini, diganti apa tidak?

Tim mantenance men'challenge' ke tim PdM, kalau misalnya bearing tdk diganti, siapa yg akan menjamin bahwa bearing tidak akan rusak dlm bbrp bulan ke depan? Siapa yg akan bertanggung jawab seandinya tiba2 bearing tsb rusak? Yg satu percaya bahwa bearing hrs diganti berdasarkan time based, yg satunya condition based. Jika ingin berhasil, tentunya dari kasus sederhana tsb, proses bisnis maintenance harus diubah.

Beberapa alternatif implementasi PdM utk mensiasati harga tool PdM yg "mahal" :

1. Inhouse program

2. Fully outsourcing ke PdM Service Provider

3. Hybrid System.

Di pasaran banyak pilihan kok PdM Technology yg bisa dipilih, mau yg low cost sampai muahallll juga ada. Mana yg lebih pas, ya dilihat dari pertimbangan bisnis dan teknisnya.

Jangan lupa, buat Cost Avoidance Model dari hasil rekomendasi PdM. Konsepnya sederhana, bila rekomendasi PdM tidak dijalankan, kemungkinan akan terjadi unplanned breakdown --> akan keluar biaya sekian + lost production, bila dijalankan rekomendasinya --> planned maintenance --> cost lebih rendah. Tinggal dikurangkan saja diantara keduanya, maka akan didapatkan gambaran benefit secara finansial dari setiap rekomendasi PdM yg muncul.

Gitu deh kira2 sharingnya.

Tanggapan 8 - ROSES-Man / Rosmana

thanks buat sharingnya, Nas.... apalagi sekarang dah jadi orang lapangan ya..... hehehe....

sebenernya yang aku pengen tahu tuh, di indonesia ini PdM jenis apa saja yang sudah dimanfaatkan oleh perusahaan2 di sini? bagaimana pengalaman waktu implementasinya? begitu sih..... karena hal-hal yang ente tuliskan itu menjadi patokan dalam implementasi. tentunya tiap perusahaan akan mempunyai pengalaman berbeda? dan setiap implementasi pdm equipment pasti juga beda.....

yang aku tahu saat ini, yang bener2 'widely used' di kita adalah oil analysis. dari yang full 3rd party dari pengambilan sampai rekomendasi, atau hanya berupa lab processing saja sedangkan analysis dan rekomendasi dilakukan secara inhouse. untuk yang ini kebetulan saya pernah terlibat langsung sebagai 'equipment health engineer', tapi itu 8 tahun yang lalu (n dah mulai lupa2)..... tentunya teknologi berkembang, banyak kemudahan... dimana metode yang dulu sepertinya susah dilakukan sekarang sudah banyak tersedia handheldnya.....

Tanggapan 9 – ebahagia

Pak Ros,

Lube engineer Mobil oil punya test kit yang terkenal dengan nama WAVIS kependekan dari Water Alkalinity (TBN/TAN) dan VIScosity. Ini bukan ASTM method analysis tapi lebih sebagai P3K onsite spot check. Metode spot check sangat bermanfaat sebagai "quick test - early result" secara onsite tanpa perlu tunggu hasil dari lab. Alat test serupa juga di gunakan produsen pelumas lain sampai Pertamina (tercinta). Ada porsi sebagai tool engineer dan ada pula porsi sebagai "perhiasan" para sales engineer. Sampai ada kesan, kalo gak bawa tool ke konsumen/site - perusahaan itu gak bonafit... weleh weleh.

Teknologi tan-delta mulai masuk juga ke ajang "onsite spot check", ada SKF dengan lolipop-nya, CSI, Shatox, dsb... yang merupakan cikal-bakal teknologi sensor2 kondisi pelumas. Teknologi lainnya portable FTIR, particle counter, portable ferrous debris, portable/pocket KF titration, etc - berbondong-bondong membuat versi onsite atau portable version dari instrument lab.

Tren mengarah ke gadget yang hand held tanpa memerlukan reagent & sample preparation - mengingat beberapa jenis reagent adalah hazardous & ribet di handling via udara. Keterbatasan skill interpretation of result di permudah dengan pengembangan database equipment/machines builder dengan web base reporting.

Saya termasuk pencinta "spot check technique" dimana sekitar 80% sample dapat di hemat secara anggaran dan limbah yang terakumulasi. Itu sebabnya saya pernah menulis "oil analysis adalah togel resmi" (tapi di sukai penyedia jasa lab hehee), singkatnya metode PdM ala TOGEL yang saya sering temui di lapangan :).

Tanggapan 10 - ROSES-Man / Rosmana

Memang sih Pak Ibnu,

handheld equipment memang sepertinya lebih disukai, karena dengan satu alat bisa digunakan pada banyak peralatan. tentu saja dengan perawatan yang lebih mudah dan lebih murah. tapi kl saya lihat, terkadang fungsi dari handheld ini bukan digunakan sebagai peralatan PdM, tapi lebih ke arah troubleshooting atau failure finding. begitu kita merasakan ada suatu masalah di suatu mesin (machine not engine), maka barulah kita gunakan peralatan tersebut....

sedangkan penafsiran saya PdM method itu selalu dilakukan berdasarkan regular interval (cyclic) dengan ada atau tidak adanya masalah. Bila kemudian ditemukan masalah, dan mungkin kita perlu konfirmasi setelah adanya analisis, bisa saja kita melakukan inspeksi untuk konfirmasi. kalau iya plan replacement, kl gak berarti false alarm.... mungkin kesalahan pengambilan data.

untuk oil analysis sendiri sepertinya perkembangannya cukup cepat, karena merupakan salah satu metode awal dalam PdM. mulai dari magnetic chips sampai oil sample analysis. mungkin customer malah lebih suka kl ada alat yang bisa melakukan oil analysis tanpa perlu ngambil sample, maksudnya langsung deteksi di sistemnya langsung.

thanks for sharingnya....


 

Followers

Recent Comments

Shout Box

Belajar Blogging Copyright © 2010 Premium Blogger Dashboard Designed by SAER